Wednesday, July 13, 2011

LATAR BELAKANG

  • Sumber daya air sungai dan sistem air tanah di aliran Sungai Citarum sangat penting untuk pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia dan juga penting untuk pembangunan perkotaan dan industri (terutama di Jabodetabek dan daerah Bandung) termasuk industri ekspor, produksi pertanian melalui sistem irigasi utama, persediaan air pedesaan, pembangkit listrik, pembangkit listrik tenaga air dan perikanan.
  • Masyarakat pedesaan di hulu, yang hidup berdekatan dengan Sungai Citarum dan di sepanjang Kanal Tarum Barat (WTC) mungkin akan mendapatkan kesempatan pertama untuk mempunyai fasilitas air minum dan sanitasi yang memadai. Namun, kualitas air minum sering rendah dan ada banyak abstraksi langsung dari sumber yang tercemar untuk keperluan rumah tangga. Buang air besar sering langsung ke WTC dan studi mengenai kualitas air menunjukkan bahwa praktek kebersihan yang buruk di sepanjang kanal lebih dari 30% dari BOD. Kondisinya juga memprihatinkan di sepanjang Sungai Citarum sekitar kota Bandung, di mana terdapat polusi domestic, industri yang cukup besar dan kebanyakan orang membuang limbah langsung ke Sungai Citarum. 
  • Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai WTC, ada kecenderungan yang tinggi terhadap penyakit yang berbasis air dan udara, khususnya untuk anak2 dan wanita yang sebagian besar sering menggunakan air, yang tidak layak dikonsumsi. Akibatnya akan menimbulkan perilaku yang kurang sehat. 
  • Roadmap (Rencana Investasi Strategi) telah dibuat untuk lebaran aliran sungai yang terintegrasi dengan pengelolaan sumber air berdasarkan “visi” dari pelaku untuk pemerintah dan masyarakat, yang bekerja sama untuk kebersihan, kesehatan dan hasil yang produktif, serta memberi manfaat yang berkesinambungan kepada masyarakat yang tinggal di aliran sungai Citarum. Hampir 80 roadmap telah diidentifikasi, dengan total biaya dasar mencapai $3.5 milyar, diajukan untuk jangka waktu 15 tahun. Ini merupakan program ambisius yang meliputi beberapa sector. Namun, seperti halnya program yang bersifat komplek, terdapat banyak permasalahan yang saling berkaitan. Jika program ini berhasil dilaksanakan, akan menjadi satu-satunya program IWRM yang komprehensif dimanapun di dunia. 
  • ICWRMIP sub component 2.3 akan melakukan pendekatan berbasis masyarakat, sesuai dengan proses yang dikembangkan sesuai dengan proyek WSLIC-II, CWSH dan SANIMAS yang sedang berjalan, dan menggunakan sumber NGOs dan CBOs yang aktif dilapangan. Komponen penting dalam program yang akan mendapat perhatian adalah perekrutan NGOs dan pelatihan Tim Fasilitator Masyarakat (TFM). TFM berada dibawah management NGO, yang akan bekerja langsung di desa, untuk membantu persiapan Rencana Aksi Masyarakat, termasuk di dalamnya rencana aksi, budget dan schedule pelaksanaan untuk penyediaan sarana air, sanitasi dan kesehatan masyarakat.

Monday, July 11, 2011

RINGKASAN

Integrated Citarum Water Resources Management Project (ICWRMIP) merupakan program yang ambisius yang mencakup beberapa sektor. Namun, seperti halnya program yang bersifat komplek, terdapat banyak permasalahan yang saling berkaitan. Jika program ini berhasil dilaksanakan, maka akan menjadi satu-satunya program Pengelolaan Sumber Daya Air Bersih Terintegrasi yang komprehensif di Indonesia.

Program ini mencakup aliran sungai paling strategis di Indonesia, dengan jumlah penduduk 28 juta. Dua pusat kota yang paling penting adalah – Jakarta (jumlah penduduk 13.2 juta) dan Bandung (4.0 juta) baik yang terletak di dalam atau yang bergantung pada aliran sungai untuk penyediaan air. Polusi di aliran sungai yang lebih rendah – khususnya di bagian hilir dari kanal Tarum Barat-memiliki masalah kualitas air yang mendesak. Ini disebabkan oleh limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah padat di sepanjang sungai yang tidak dikelola dengan baik. Masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai di Kanal Tarum Barat, mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap penyakit yang berbasis air dan udara, khususnya untuk anak-anak dan wanita.

ICWRMIP Sub Component 2.3 akan melakukan pendekatan berbasis masyarakat, sesuai dengan proses yang dikembangkan menurut  proyek WSLIC-II, CWSH dan SANIMAS yang sedang berjalan, dan menggunakan sumber NGOs dan CBOs yang aktif dilapangan.

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan mengurangi penyakit yang berbasis air dan udara pada masyarakat di tepi pantai di sepanjang Kanal Tarum Barat, dengan meningkatkan penyediaan air dan sanitasi. Manfaat utama dari proyek ini adalah ; (i) mengurangi kemiskinan dan menambah manfaat kesehatan di daerah kumuh; (ii) meningkatkan pemberdayaan masyarakat; (iii) memperkuat kapasitas pemerintah daerah.

Tahap pertama ICWRMIP Sub Component 2.3 periode 2010-2012 meliputi 2 Kabupaten yaitu Karawang dan Bekasi, dan satu kota yaitu Bekasi, dengan 15 desa sasaran. Proyek ini dilaksanakan melalui dukungan beberapa konsultan di bawah Mott MacDonald & Associated, untuk memberi service kepada Kementrian Kesehatan selaku PIU dari ICWRMIP Sub Component 2.3, yang dimobilisasi pada Desember 2010.

Beberapa permasalahan dan temuan fakta dapat dijelaskan sebagai berikut;

  • Kesiapan dan dukungan dari pemerintah daerah, dan stakeholder perlu ditingkatkan melalui advokasi, sosialisasi, dll.
  • Review, revisi dan pembuatan petunjuk/pedoman, manual dan dokumen pendukung yang terkait harus dilaksanakan pada tahap pertama mobilisasi tim konsultan.
  • Revisi rencana kerja yang ada dalam hal mobilisasi Konsultan Kabupaten, Pengadaan Organisasi Sosial Masyarakat dan Baseline Survey.
  • Membuat program pelaksanaan rencana kerja di tingkat desa, untuk mencapai tujuan
  • Sesuai dengan kegiatan di tingkat desa yang sangat intens dan untuk mendukung kegiatan PIU, maka semua dukungan dari Tim Konsultan Pusat sangat dibutuhkan untuk mempercepat jadwal tugasnya.